Saat mengobrol bersama Efraim dan Dwison (red: sahabat), kami berbicara soal apa yang menjadi prinsip yang kami pegang dalam menjalani hari-hari hidup kami. Yang saya maksudkan dengan prinsip di atas sebenarnya lebih merupakan pandangan hidup yang lahir secara spontan dari permenungan dan pergulatan masing-masing dengan kesadaran
penuh atas pengalaman hidup. Latar belakang dari diskusi kami adalah kegiatan dies natalis ke- 54 AIS/STIS, kampus kami tercinta.
penuh atas pengalaman hidup. Latar belakang dari diskusi kami adalah kegiatan dies natalis ke- 54 AIS/STIS, kampus kami tercinta.
Sebagaimana biasanya perayaan dies natalis di STIS yang dimeriahkan oleh aneka kegiatan. Kegiatan penting dan sangat menarik adalah kegiatan yang melibatkan himpunan mahasiswa daerah (HIMADA). Rangkaian kegiatan yang secara langsung melibatkan HIMADA adalah antara lain seleksi putra-putri daerah, culture day, dan Himada Smart, handicraft, dan pendirian stand-stand pada hari puncak.
Berkaitan dengan kegiatan ini saya mengatakan bahwa sebagai koordinator himada Flobamora (IMF) saya tidak mengharapkan untuk menjadi juara. Yang saya inginkan adalah menampilkan dan memberikan yang terbaik dari yang kami bisa. Mengapa saya berpikir demikian? Hal yang melatari pemikiran seperti ini adalah karena saya ingin memperlakukan kompetisi bukan sebagai ajang untuk mengalahkan yang lain melainkan sebagai kesempatan untuk menampilkan yang terbaik. Dalam menampilkan yang terbaik yang menjadi tolok ukur adalah kemampuan sendiri bukan apa yang bisa diraih oleh orang lain, bukan apa yang menjadi pencapaian orang lain, sedangkan dalam kompetisi yang menjadi ukuran adalah apa yang bisa diraih orang lain dan bagaimana cara melampaui pencapaian orang lain tersebut.
Pembicaraan kemudian meluas mencakup bidang-bidang kehidupan umumnya. Kami mencoba melihat kontribusi dari kedua pandangan di atas terhadap kehidupan nyata. Bagi saya, dalam kehidupan ini yang seharusnya menjadi prinsip hidup adalah menjadi yang terbaik, bukan berkompetisi. Menjadi yang terbaik mengandung makna proses. Suatu proses perubahan yang terus menerus dari suatu kondisi yang dianggap terbaik pada masanya menuju suatu kondisi yang terbaik yang lebih relevan. Menjadi yang terbaik lebih membuka peluang untuk kerjasama yang saling membangun daripada berkompetisi. Dalam berkompetisi orang ingin menjadi juara. Untuk menjadi juara, menjadi yang terutama maka harus ada pihak yang dikalahkan. Pihak-pihak yang kalah ini bisa kita temukan dalam diri kaum yang termarginalisasi, kaum yang terpinggirkan, kaum yang miskin dan tersingkirkan dari kehidupan dan akses sosial ekonomi. Singkatnya kompetisi melahirkan korban sedangkan menjadi yang terbaik menimbulkan solidaritas untuk saling membangun. Akibat dari kompetisi dalam kehidupan ini sangat nyata. Persaingan ekonomis membuat sebagian orang terpaksa menerima kemiskinan sebagai nasib, persaingan di bidang agama melahirkan perpecahan dan kekerasan atas nama agama, persaingan politik melahirkan kader-kader politik dan pemimpin yang menjunjung tinggi kepentingan pribadi dan golongan.
Uraian di atas bertentangan dengan apa yang diajukan oleh kedua sahabat saya untuk dijadikan pandangan hidup. Keduanya lebih menerima berkompetisi sebagai prinsip hidup. Kompetisi adalah sarana untuk melahirkan pribadi-pribadi yang tangguh dan fokus pada tujuan. Kompetisi membuat setiap pemeran dalam kehidupan ini berusaha keras untuk mewujudkan apa yang ia impikan. Dalam hal ini berkompetisi mengandung dalam dirinya suatu dorongan yang tanpa henti menggerakan manusia untuk terus maju dan berkembang. Ada juga istilah kompetisi sehat, suatu persaingan yang melibatkan pihak-pihak yang menjunjung tinggi sportifitas, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan. Meskipun demikian, kita tidak bisa menyangkal bahwa kompetisi selalu melahirkan dua kutub yang berbeda yang didiami oleh yang menang dan yang kalah.
Kompetisi di satu sisi memang baik, namun di sini lain mengandung kelemahan. Kompetisi secar sepintas lalu mengandung makna persaingan, perlombaan. Makna inilah yang mendorong orang untuk mengutamakan kepentingan dirinya sendiri dan mengabaikan yang lain. Makna inilah yang menempatkan orang lain bukan sebagai sesama dan partner dalam kehidupan melainkan sebagai lawan yang harus disingkirkan. Sampai di sini saya kira sudah menjadi jelas bahwa kompetisi adalah suatu prinsip yang hanya benar dalam lingkup-lingkup tertentu dan berbahaya untuk keutuhan dan perdamaian.
Sudah saatnya kita menggantikan apa yang seharusnya menjadi prinsip hidup kita. Jika kita menginginkan kesejahteraan dan kebaikan yang merata maka kompetisi bukanlah pandangan yang tepat, melainkan kita harus berproses untuk menjadi yang terbaik dari waktu ke waktu. Kompetisi melahirkan korban sedangkan menjadi yang terbaik membuka peluang untuk solidaritas dan kerjasana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar