“Penulis
adalah Edo A.D.Astram. memperoleh gelar sarjana pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia dari universitas di daerah, sekarang berkecimpung di bidang
pertanian.” Itulah yang akan kutulis dengan bangga di akhir karya sederhanaku
yang akan kukirim ke redaksi Koran lokal untuk dimuat di sana.
Aku terbaring
santai di sebuah balai-balai di depan
rumah. Balai-balai itu terbuat dari
bilah bambu yang dirangkai tali dari rotan dan diletakkan di bawah bayang-bayang
pohon mangga dan kerimbunan daunnya. Di kampung kecilku,
hampir semua halaman rumah ditanami pohon mangga. Bibitnya di sumbangkan kepala desa sepuluh tahun lalu. Katanya untuk menciptakan lingkungan yang hijau. Belakangan baru aku tahu bahwa itu mungkin berguna untuk mengurangi pemanasan global.
hampir semua halaman rumah ditanami pohon mangga. Bibitnya di sumbangkan kepala desa sepuluh tahun lalu. Katanya untuk menciptakan lingkungan yang hijau. Belakangan baru aku tahu bahwa itu mungkin berguna untuk mengurangi pemanasan global.
Kerindangan
pohon mangga ini memberiku cukup kesejukan di siang yang seterik ini. Sudah
menjadi kebiasaanku untuk menikmati kenyamanan di balai-balai itu karena udara
di dalam rumah cukup panas. Rumah kami beratap seng dan tidak memiliki langit-langit.
Berada dalam rumah di siang hari seolah dipanggang di dalam oven raksasa dengan api sedang. “Mungkin suatu saat aku harus membeli AC. Alat itu akan membuat ruangan menjadi lebih sejuk seperti di ruang-ruang kelasku di kampus dulu. Atau, setidaknya jika aku sudah mempunyai cukup uang aku harus memasang plafon terlebih dahulu dan mendandani rumahku dengan perabot-perabot indah, sebelum aku memutuskan untuk menikahi gadis pujaanku” pikirku.
Berada dalam rumah di siang hari seolah dipanggang di dalam oven raksasa dengan api sedang. “Mungkin suatu saat aku harus membeli AC. Alat itu akan membuat ruangan menjadi lebih sejuk seperti di ruang-ruang kelasku di kampus dulu. Atau, setidaknya jika aku sudah mempunyai cukup uang aku harus memasang plafon terlebih dahulu dan mendandani rumahku dengan perabot-perabot indah, sebelum aku memutuskan untuk menikahi gadis pujaanku” pikirku.
Aku belum
pernah punya uang sendiri, karena sejak menggondol gelar sarjana pendidikan
bahasa dan sastra Indonesia tiga tahun lalu, aku belum mepunyai pekerjaan.
Sudah tiga kali aku gagal dalam tes menjadi PNS. Tiap kali gagal aku masih
memiliki harapan, menunggu hingga tahun berikutnya lagi. Tapi kini, aku merasa
sudah cukup bosan turut menyumbang ke dalam angka pengangguran yang entah
berapa persen itu. Dan aku tahu, sekarang sedang dalam masa moratorium
penerimaan PNS jadi mungkin harus cari cara lain.
Aneka pikiran
berkelebat di otakku. Keinginanku tidak boleh hanya sebatas khayal yang akan
segera menghilang seperti embun pagi saat kesejukan pagi berubah jadi siang
yang terik. Kata teman-temanku aku memiliki bakat menulis setelah mereka
membaca bebarapa tulisan dari catatan lepasku.
Ada yang mendorongku menulis cerpen untuk dimuat di Koran lokal pada
hari minggu. “ Satu cerpen itu honornya lumayan, lho…!!” ujar temanku yang sok
intelektual dan tahu segalanya. Padahal aku yakin dia hanya menebak.
Mungkin aku bisa
menulis. Tapi seberapa besar peluang tulisanku dimuat di Koran dan aku mendapat
honornya? Rasanya peluangnya terlalu kecil. Aku hanya penulis pemula dan tentu
saja banyak orang yang memasukan tulisannya ke sana. Aku mengenal seorang teman
yang pandai menulis. “Aku sudah sering mengirim cerpenku ke redaksi Koran itu,
tapi belum sekalipun tulisanku dimuat,” akunya dengan nada kecewa beberapa
bulan lalu ketika aku memberinya saran untuk mengirim tulisannya. Aku rasa
kemampuanku tidaklah lebih baik dari pada dia. Lagi pula, aku tidak yakin bisa
bersaing dengan penulis sepuh yang namanya tidak pernah absen dari kolom seni
tiap minggunya. Mungkin lebih baik aku menjadi petani buah saja. Sejenak aku
mempertimbangkan menjadi petani buah pepaya.
Peluang kerja
di kampungku memang tidaklah banyak. Hanya ada kemungkinan menjadi petani atau
pedagang jika tidak ingin mengisi waktu dengan mengojek. Sudah sejak dahulu
masayrakat di sini tidak begitu kreatif untuk menciptakan lapangan kerja. Jika
tidak memilih di antara beberapa kemungkinan di atas maka lebih baik merantau.
Menjadi
pedagang tidak mungkin bagiku karena aku tidak punya cukup modal. Sebenarnya
aku bisa meminjam ke koperasi melalui ibuku yang sudah sepuluh tahun menjadi
anggotanya. “ah… tidak!!” begitulah aku menepis pikiran jadi pedagang. Kalau
saja usahaku tidak berjalan dengan baik apalagi mengalami kebangkrutan maka
tentu saja aku tidak akan bisa mengembalikan pinjaman dan kami akan terlilit
utang. Rasanya aku juga tidak mempunyai bakat jadi pedagang. Dari garis
keturunan ayahku, tidak ada yang pernah jadi pedagang. Sedang dari pihak ibu,
hanya ada pamanku yang menjadi pedagang dan sialnya dia bangkrut sebelum
modalnya kembali.
Aku menggeser
posisi sedikit ke arah timur, memiringkan sedikit tubuhku agar lebih nyaman.
Balai-balai berderit sesaat lalu diam saat aku sudah dalam posisiku yang
nyaman. “Edo…. tidur ..!?” Aku mendongak. Kedua sikutku menumpu pada celah
sebesar kelingking antara dua bilah bambu yang berdekatan. Werly sedang
berjalan lalu menuju rumahnya, kelihatannya baru pulang dari kantor. “Yoo…
sudah pulang eja ?” aku menjawab
singkat dan balas bertanya. Begitulah cara kami saling bertegur sapa. Basa-basi
dengan orang yang sedang lewat dengan menanyakan sesuatu yang sudah jelas
jawabannya. Ia tidak menjawabku. Mungkin ia tidak mendengar atau merasa tidak
perlu menjawab. Begitulah Werly, dia tidak merasa berkewajiban menjawab
pertanyaan yang diajukan padanya.
Aku kembali
berbaring, membetulkan posisi bantal agar kepalaku nyaman di sana. Aku mulai
menguap lebar-lebar. Sepoi angin dan kesejukan udara di bawah pohon mangga
membuatku mengantuk. Memikirkan apa yang akan aku lakukan membuat aku sejenak
lupa keinginanku untuk tidur siang tadinya. “Menjadi petani buah papaya..?” Aku
bertanya-tanya dalam hati. Keningku berkerut seolah memikirkan sesuatu yang
sulit. Mungkin itu ide yang bagus. Aku hanya membutuhkan sedikit uang sebagai
modal awal dan banyak kerja keras. Aku hanya perlu membeli bibit pepaya unggul
dan polybag secukupnya di toko
pertanian di kota. Aku mungkin akan membeli juga pupuk kimia dan pembasmi gulma.
Sepertinya pupuk dan pembasmi gulma tidak perlu. Cepat-cepat aku menghapus
keinginan itu dari daftar belanja yang terancang di otakku. Bukan hanya karena
modalku yang tentu saja kecil tetapi zat-sat kimia itu mungkin tidak ramah
lingkungan, berbahaya bagi kesehatan dan mencemar.
Ingatan akan
pembicaraan dengan tanteku yang di kota mengambil alih ruang pikirku. Seperti
sebuah interupsi yang tergesa dalam sebuah pembicaraan. Aku teringat akan
keluhannya. “Bahan makanan sekarang baik sayur maupun buah sudah banyak
tercemar oleh zat kimia. Petani-petani banyak yang menggunakan pupuk kimia dan
pestisida. Penyakit-penyakit yang sekarang kita alami mungkin disebabkan oleh
hal-hal itu. Lihat saja orang-orang dulu. Mereka tidak menderita aneka penyakit
dan umurnya panjang karena makanan mereka sangat alami.” Saat itu sudah setahun
dia menderita vertigo. Aku hanya mendengarkan saja, mengangguk-angguk seolah
percaya atau setidaknya setuju. Alasanku bersikap seperti itu adalah agar aku
terlihat sopan, tidak membantah orangtua, agar mereka tidak menyangka aku keras
kepala. Aku tidak memprotesnya dengan mengatakan bahwa kelihatannya hanya
sebagian kecil dari orang dulu yang mencapai usia lanjut. Atau, mungkin mereka
juga mengalami aneka penyakit hanya saja tidak diketahui karena belum ada pelayanan
medis. Kalau sakit tentu saja mereka ke dukun. Maksudku, dukun tidak akan
mendiagnosa mereka seperti yang dilakukan dokter modern.
Mungkin
tanteku benar juga. Aku tidak perlu menggunakan pupuk kimia dan pembasmi gulma.
Pupuk kompos atau kotoran ternak saja sudah akan cukup, apalagi tanah di sini
masih tergolong cukup subur. Aku rasa para petani di sini tetap memanen hasil
kerjanya setiap tahun meski mereka tidak benar-benar menerapkan teknik-teknik
pertanian yang baik menurut para insinyur pertanian, mungkin juga mereka tidak
tahu. Hasil panen mereka cukup dan mereka tentu saja tidak takut pada the law of diminishing return, hukum
hasil yang semakin berkurang seperti yang pernah kudengar dari Werly saat
seminar tiga tahun lalu di kampus. Belakangan baru aku tahu artinya. Kalau
suatu lahan digarap secara terus-menerus tanpa ada pengaruh factor lain maka
tentu saja hasilnya akan semakin berkurang.
Aku menguap
lebar-lebar. Sepoi angin terasa sejuk di kulitku. Mataku perlahan menutup
seperti lampu minyak yang pudar sumbunya lalu benar-benar padam.
“Edo…. Edo…!!”
suara itu terdengan begitu jauh, seperti dalam mimpi saja. Makin lama panggilan
itu makin keras hinga aku terjaga. Entah sudah berapa kali namaku diserukan
dari dalam rumah. Ibuku memangil. Dengan malas aku hanya mendehem. Tentu saja
ia tidak mendengarku. “Edo…!!” suaranya terdengar marah. “Iya,,, saya dengar!”
balasku dengan sedikit membentak lalu beranjak.
“Nafasmu saja
bisa mama dengar, tapi panggilan mama tidak kau dengar sama sekali!” Begitulah
gayanya, sangat hiperbol. “Tolong bantu mama masukkan benang ini ke dalam
jarum. Mama mau menjahit.” Kain hasil tenunannya sudah siap di pangkuannya. Dia
akan menjahitnya menjadi sebuah sarung sebelum dijual.
“Mama, saya
punya rencana!” Aku begitu antusias seolah baru saja melakukan penemuan besar.
Kulihat ia menatapku. Wajahnya memancarkan tanda tanya. “Mama, saya sudah bosan
menganggur dan saya mau jadi petani buah pepaya saja.” “Edo….? mama kira untuk
menjadi petani kamu tidak perlu menungggu sampai harus menjadi sarjana kan?
Kalau mau jadi petani mengapa baru sekarang kau katakan? Seharusnya kami tidak
perlu susah-susah menyekolahkanmu. Apa kata orang-orang nanti, sekolah
tinggi-tinggi lalu jadi petani. Ilmumu jadi tidak berguna Edo. Lihat si Werly.
Setelah selesai kuliah langsung bekerja di kantor pemerintah.” Wajah ibuku
jelas-jelas menunjukkan ia tidak setuju. “ma, saya sudah mengikuti tiga kali
tes menjadi PNS sejak diwisuda dan tidak pernah lulus. Sekarang ada moratorium.
Beberapa tahun ke depan tidak ada lagi penerimaan PNS kalau saya tidak salah.
Mama juga yang meminta saya berhenti jadi guru honor dua tahun lalu karena gaji
yang sangat kecil. Sekarang mama tidak setuju kalau saya jadi petani saja.” Aku
mencoba mempertahankan rencanaku. “ mama jangan bandingkan saya dengan Werly.
Mama tahu ayahnya adalah orang yang berpengaruh di pemerintahan dan memiliki
relasi, koneksi dengan pejabat-pejabat.” Aku memberi penekanan khusus pada
kata-kata itu. Ibuku hanya terdiam. “ ma, sekarang ini pekerjaan tidak hanya
ditentukan oleh prestasi tetapi juga relasi, koneksi. Berapa banyak keluarga
kita yang jadi pejabat sehingga bisa membantu saya? Hanya jadi petani yang
mungkin tidak banyak membutuhkan hal-hal itu!” Dan aku meninggalkan ibuku yang
mulai menjahit dengan enggan.
Balai-balai
berderit saat aku duduk di atasnya. Aku agak kecewa dengan ibuku meski aku
mengerti maksudnya. Pola pikir dan kebudayaan di kampungku telah begitu berakar
dalam dirinya. Ia belum pernah meninggalkan kampung ini sejak dilahirkan. Tentu
saja ia juga berpikir bahwa pekerjaan yang baik adalah menjadi PNS. Bukan soal
mengabdi pada negeri, tetapi mendapat gaji tetap dan jaminan hari tua, status
social dan ekonomi dalam masyarakat. Menjadi PNS adalah cita-cita umum di
kampungku. Para orang tua bangga kalau anaknya jadi PNS, tidak peduli apakah
mereka benar-benar bekerja atau tidak. Tidak ada lagi yang benar-benar ingin
jadi petani. Menjadi petani di sini bukanlah sesuatu yang diinginkan tetapi hal
yang tak bisa dihindari kalau tidak berpendidikan dan tak hendak merantau.
Lalu, salahkan jika seorang sarjana pendidikan dan sastra bahasa Indonesia
seperti diriku kini berkeinginan menjadi petani?
Matahari
tinggal sepenggal galah. Hari perlahan berubah gelap. “Edo,,, kamu harus
mengambil keputusan sendiri. Ilmumu masih akan berguna. Kau akan menulis ketika
menunggu pepaya itu tumbuh, berbuah dan matang. Di akhir tulisanmu kau akan
dengan bangga menulis Penulis adalah Edo
A.D.Astram. memperoleh gelar sarjana pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
dari universitas di daerah, sekarang berkecimpung di bidang pertanian.” Begitulah
aku menasihati diriku.
Oris Ledhe
Jakarta, 07 Maret 2011
eja macam so jadi master cinta e, baik ame tebarkan pesona cinta itu baik hehhehe
BalasHapusmaster cinta bagaimana eja,, itu cerita tentang perjuangan hidup,,,, haha
BalasHapus