Search

Sabtu, 08 September 2012

Sebuah cita……




“Penulis adalah Edo A.D.Astram. memperoleh gelar sarjana pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari universitas di daerah, sekarang berkecimpung di bidang pertanian.” Itulah yang akan kutulis dengan bangga di akhir karya sederhanaku yang akan kukirim ke redaksi Koran lokal untuk dimuat di sana.
Aku terbaring santai di sebuah balai-balai di depan rumah. Balai-balai itu terbuat dari bilah bambu yang dirangkai tali dari rotan dan diletakkan di bawah bayang-bayang pohon mangga dan kerimbunan daunnya. Di kampung kecilku,
hampir semua halaman rumah ditanami pohon mangga. Bibitnya di sumbangkan kepala desa sepuluh tahun lalu. Katanya untuk menciptakan lingkungan yang hijau. Belakangan baru aku tahu bahwa itu mungkin berguna untuk mengurangi pemanasan global.
Kerindangan pohon mangga ini memberiku cukup kesejukan di siang yang seterik ini. Sudah menjadi kebiasaanku untuk menikmati kenyamanan di balai-balai itu karena udara di dalam rumah cukup panas. Rumah kami beratap seng dan tidak memiliki langit-langit.
Berada dalam rumah di siang hari seolah dipanggang di dalam oven raksasa dengan api sedang. “Mungkin suatu saat aku harus membeli AC. Alat itu akan membuat ruangan menjadi lebih sejuk seperti di ruang-ruang kelasku di kampus dulu. Atau, setidaknya jika aku sudah mempunyai cukup uang aku harus memasang plafon terlebih dahulu dan mendandani rumahku dengan perabot-perabot indah, sebelum aku memutuskan untuk menikahi gadis pujaanku” pikirku.
Aku belum pernah punya uang sendiri, karena sejak menggondol gelar sarjana pendidikan bahasa dan sastra Indonesia tiga tahun lalu, aku belum mepunyai pekerjaan. Sudah tiga kali aku gagal dalam tes menjadi PNS. Tiap kali gagal aku masih memiliki harapan, menunggu hingga tahun berikutnya lagi. Tapi kini, aku merasa sudah cukup bosan turut menyumbang ke dalam angka pengangguran yang entah berapa persen itu. Dan aku tahu, sekarang sedang dalam masa moratorium penerimaan PNS jadi mungkin harus cari cara lain.
Aneka pikiran berkelebat di otakku. Keinginanku tidak boleh hanya sebatas khayal yang akan segera menghilang seperti embun pagi saat kesejukan pagi berubah jadi siang yang terik. Kata teman-temanku aku memiliki bakat menulis setelah mereka membaca bebarapa tulisan dari catatan lepasku.  Ada yang mendorongku menulis cerpen untuk dimuat di Koran lokal pada hari minggu. “ Satu cerpen itu honornya lumayan, lho…!!” ujar temanku yang sok intelektual dan tahu segalanya. Padahal aku yakin dia hanya menebak.
Mungkin aku bisa menulis. Tapi seberapa besar peluang tulisanku dimuat di Koran dan aku mendapat honornya? Rasanya peluangnya terlalu kecil. Aku hanya penulis pemula dan tentu saja banyak orang yang memasukan tulisannya ke sana. Aku mengenal seorang teman yang pandai menulis. “Aku sudah sering mengirim cerpenku ke redaksi Koran itu, tapi belum sekalipun tulisanku dimuat,” akunya dengan nada kecewa beberapa bulan lalu ketika aku memberinya saran untuk mengirim tulisannya. Aku rasa kemampuanku tidaklah lebih baik dari pada dia. Lagi pula, aku tidak yakin bisa bersaing dengan penulis sepuh yang namanya tidak pernah absen dari kolom seni tiap minggunya. Mungkin lebih baik aku menjadi petani buah saja. Sejenak aku mempertimbangkan menjadi petani buah pepaya.
Peluang kerja di kampungku memang tidaklah banyak. Hanya ada kemungkinan menjadi petani atau pedagang jika tidak ingin mengisi waktu dengan mengojek. Sudah sejak dahulu masayrakat di sini tidak begitu kreatif untuk menciptakan lapangan kerja. Jika tidak memilih di antara beberapa kemungkinan di atas maka lebih baik merantau.
Menjadi pedagang tidak mungkin bagiku karena aku tidak punya cukup modal. Sebenarnya aku bisa meminjam ke koperasi melalui ibuku yang sudah sepuluh tahun menjadi anggotanya. “ah… tidak!!” begitulah aku menepis pikiran jadi pedagang. Kalau saja usahaku tidak berjalan dengan baik apalagi mengalami kebangkrutan maka tentu saja aku tidak akan bisa mengembalikan pinjaman dan kami akan terlilit utang. Rasanya aku juga tidak mempunyai bakat jadi pedagang. Dari garis keturunan ayahku, tidak ada yang pernah jadi pedagang. Sedang dari pihak ibu, hanya ada pamanku yang menjadi pedagang dan sialnya dia bangkrut sebelum modalnya kembali.
Aku menggeser posisi sedikit ke arah timur, memiringkan sedikit tubuhku agar lebih nyaman. Balai-balai berderit sesaat lalu diam saat aku sudah dalam posisiku yang nyaman. “Edo…. tidur ..!?” Aku mendongak. Kedua sikutku menumpu pada celah sebesar kelingking antara dua bilah bambu yang berdekatan. Werly sedang berjalan lalu menuju rumahnya, kelihatannya baru pulang dari kantor. “Yoo… sudah pulang eja ?” aku menjawab singkat dan balas bertanya. Begitulah cara kami saling bertegur sapa. Basa-basi dengan orang yang sedang lewat dengan menanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya. Ia tidak menjawabku. Mungkin ia tidak mendengar atau merasa tidak perlu menjawab. Begitulah Werly, dia tidak merasa berkewajiban menjawab pertanyaan yang diajukan padanya.
Aku kembali berbaring, membetulkan posisi bantal agar kepalaku nyaman di sana. Aku mulai menguap lebar-lebar. Sepoi angin dan kesejukan udara di bawah pohon mangga membuatku mengantuk. Memikirkan apa yang akan aku lakukan membuat aku sejenak lupa keinginanku untuk tidur siang tadinya. “Menjadi petani buah papaya..?” Aku bertanya-tanya dalam hati. Keningku berkerut seolah memikirkan sesuatu yang sulit. Mungkin itu ide yang bagus. Aku hanya membutuhkan sedikit uang sebagai modal awal dan banyak kerja keras. Aku hanya perlu membeli bibit pepaya unggul dan polybag secukupnya di toko pertanian di kota. Aku mungkin akan membeli juga pupuk kimia dan pembasmi gulma. Sepertinya pupuk dan pembasmi gulma tidak perlu. Cepat-cepat aku menghapus keinginan itu dari daftar belanja yang terancang di otakku. Bukan hanya karena modalku yang tentu saja kecil tetapi zat-sat kimia itu mungkin tidak ramah lingkungan, berbahaya bagi kesehatan dan mencemar.
Ingatan akan pembicaraan dengan tanteku yang di kota mengambil alih ruang pikirku. Seperti sebuah interupsi yang tergesa dalam sebuah pembicaraan. Aku teringat akan keluhannya. “Bahan makanan sekarang baik sayur maupun buah sudah banyak tercemar oleh zat kimia. Petani-petani banyak yang menggunakan pupuk kimia dan pestisida. Penyakit-penyakit yang sekarang kita alami mungkin disebabkan oleh hal-hal itu. Lihat saja orang-orang dulu. Mereka tidak menderita aneka penyakit dan umurnya panjang karena makanan mereka sangat alami.” Saat itu sudah setahun dia menderita vertigo. Aku hanya mendengarkan saja, mengangguk-angguk seolah percaya atau setidaknya setuju. Alasanku bersikap seperti itu adalah agar aku terlihat sopan, tidak membantah orangtua, agar mereka tidak menyangka aku keras kepala. Aku tidak memprotesnya dengan mengatakan bahwa kelihatannya hanya sebagian kecil dari orang dulu yang mencapai usia lanjut. Atau, mungkin mereka juga mengalami aneka penyakit hanya saja tidak diketahui karena belum ada pelayanan medis. Kalau sakit tentu saja mereka ke dukun. Maksudku, dukun tidak akan mendiagnosa mereka seperti yang dilakukan dokter modern.
Mungkin tanteku benar juga. Aku tidak perlu menggunakan pupuk kimia dan pembasmi gulma. Pupuk kompos atau kotoran ternak saja sudah akan cukup, apalagi tanah di sini masih tergolong cukup subur. Aku rasa para petani di sini tetap memanen hasil kerjanya setiap tahun meski mereka tidak benar-benar menerapkan teknik-teknik pertanian yang baik menurut para insinyur pertanian, mungkin juga mereka tidak tahu. Hasil panen mereka cukup dan mereka tentu saja tidak takut pada the law of diminishing return, hukum hasil yang semakin berkurang seperti yang pernah kudengar dari Werly saat seminar tiga tahun lalu di kampus. Belakangan baru aku tahu artinya. Kalau suatu lahan digarap secara terus-menerus tanpa ada pengaruh factor lain maka tentu saja hasilnya akan semakin berkurang.
Aku menguap lebar-lebar. Sepoi angin terasa sejuk di kulitku. Mataku perlahan menutup seperti lampu minyak yang pudar sumbunya lalu benar-benar padam.
“Edo…. Edo…!!” suara itu terdengan begitu jauh, seperti dalam mimpi saja. Makin lama panggilan itu makin keras hinga aku terjaga. Entah sudah berapa kali namaku diserukan dari dalam rumah. Ibuku memangil. Dengan malas aku hanya mendehem. Tentu saja ia tidak mendengarku. “Edo…!!” suaranya terdengar marah. “Iya,,, saya dengar!” balasku dengan sedikit membentak lalu beranjak.
“Nafasmu saja bisa mama dengar, tapi panggilan mama tidak kau dengar sama sekali!” Begitulah gayanya, sangat hiperbol. “Tolong bantu mama masukkan benang ini ke dalam jarum. Mama mau menjahit.” Kain hasil tenunannya sudah siap di pangkuannya. Dia akan menjahitnya menjadi sebuah sarung sebelum dijual.
“Mama, saya punya rencana!” Aku begitu antusias seolah baru saja melakukan penemuan besar. Kulihat ia menatapku. Wajahnya memancarkan tanda tanya. “Mama, saya sudah bosan menganggur dan saya mau jadi petani buah pepaya saja.” “Edo….? mama kira untuk menjadi petani kamu tidak perlu menungggu sampai harus menjadi sarjana kan? Kalau mau jadi petani mengapa baru sekarang kau katakan? Seharusnya kami tidak perlu susah-susah menyekolahkanmu. Apa kata orang-orang nanti, sekolah tinggi-tinggi lalu jadi petani. Ilmumu jadi tidak berguna Edo. Lihat si Werly. Setelah selesai kuliah langsung bekerja di kantor pemerintah.” Wajah ibuku jelas-jelas menunjukkan ia tidak setuju. “ma, saya sudah mengikuti tiga kali tes menjadi PNS sejak diwisuda dan tidak pernah lulus. Sekarang ada moratorium. Beberapa tahun ke depan tidak ada lagi penerimaan PNS kalau saya tidak salah. Mama juga yang meminta saya berhenti jadi guru honor dua tahun lalu karena gaji yang sangat kecil. Sekarang mama tidak setuju kalau saya jadi petani saja.” Aku mencoba mempertahankan rencanaku. “ mama jangan bandingkan saya dengan Werly. Mama tahu ayahnya adalah orang yang berpengaruh di pemerintahan dan memiliki relasi, koneksi dengan pejabat-pejabat.” Aku memberi penekanan khusus pada kata-kata itu. Ibuku hanya terdiam. “ ma, sekarang ini pekerjaan tidak hanya ditentukan oleh prestasi tetapi juga relasi, koneksi. Berapa banyak keluarga kita yang jadi pejabat sehingga bisa membantu saya? Hanya jadi petani yang mungkin tidak banyak membutuhkan hal-hal itu!” Dan aku meninggalkan ibuku yang mulai menjahit dengan enggan.
Balai-balai berderit saat aku duduk di atasnya. Aku agak kecewa dengan ibuku meski aku mengerti maksudnya. Pola pikir dan kebudayaan di kampungku telah begitu berakar dalam dirinya. Ia belum pernah meninggalkan kampung ini sejak dilahirkan. Tentu saja ia juga berpikir bahwa pekerjaan yang baik adalah menjadi PNS. Bukan soal mengabdi pada negeri, tetapi mendapat gaji tetap dan jaminan hari tua, status social dan ekonomi dalam masyarakat. Menjadi PNS adalah cita-cita umum di kampungku. Para orang tua bangga kalau anaknya jadi PNS, tidak peduli apakah mereka benar-benar bekerja atau tidak. Tidak ada lagi yang benar-benar ingin jadi petani. Menjadi petani di sini bukanlah sesuatu yang diinginkan tetapi hal yang tak bisa dihindari kalau tidak berpendidikan dan tak hendak merantau. Lalu, salahkan jika seorang sarjana pendidikan dan sastra bahasa Indonesia seperti diriku kini berkeinginan menjadi petani?
Matahari tinggal sepenggal galah. Hari perlahan berubah gelap. “Edo,,, kamu harus mengambil keputusan sendiri. Ilmumu masih akan berguna. Kau akan menulis ketika menunggu pepaya itu tumbuh, berbuah dan matang. Di akhir tulisanmu kau akan dengan bangga menulis Penulis adalah Edo A.D.Astram. memperoleh gelar sarjana pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari universitas di daerah, sekarang berkecimpung di bidang pertanian.” Begitulah aku menasihati diriku.

Oris Ledhe
Jakarta, 07 Maret 2011

2 komentar:

  1. eja macam so jadi master cinta e, baik ame tebarkan pesona cinta itu baik hehhehe

    BalasHapus
  2. master cinta bagaimana eja,, itu cerita tentang perjuangan hidup,,,, haha

    BalasHapus