"Bidak tidak pernah bisa melangkah
mundur. Apa pun keadaannya ia hanya bisa melangkah maju. Jika berhasil ia
mencapai baris akhir papan lawan maka ia boleh menjadi apa saja yang lebih dari
padanya...!!"
Dalam permainan semua mempunyai peran.
Peran paling sederhana dan mungkin menentukan dalam permainan catur adalah
bidak.
Peran sebuah bidak begitu mudah, hanya butuh teknik sederhana, bahkan siapa saja yang belum tahu menggerakkan buah-buah catur secara teknis di atas papannya tahu bagaimana menggerakkan bidak. Bidak hanya perlu digerakkan ke depan dan hanya ke depan jika gerakan menyamping untuk “memangsa” buah catur lawan juga dikatakan ke depan. Namun, apa keistimewaan bidak selain kemudahan dan kesederhanaan penggunaannya?
Peran sebuah bidak begitu mudah, hanya butuh teknik sederhana, bahkan siapa saja yang belum tahu menggerakkan buah-buah catur secara teknis di atas papannya tahu bagaimana menggerakkan bidak. Bidak hanya perlu digerakkan ke depan dan hanya ke depan jika gerakan menyamping untuk “memangsa” buah catur lawan juga dikatakan ke depan. Namun, apa keistimewaan bidak selain kemudahan dan kesederhanaan penggunaannya?
Bidak
catur hanya menjalankan peran dengan gerakan yang terbatas. Andaikan bidak
mempunyai kemampuan untuk menggerakan dirinya sendiri tentu saja ia masih tidak
punya pilihan untuk melakukan improvisasi gerakan. Apakah ini sebuah kebaikan?
Bidak catur dapat dikatakan terikat oleh suatu prinsip yang menjadi hakikatnya.
Prinsip yang menjadi hakikat ini adalah melangkah maju dan hanya maju. Jika bukan
demikian maka ia bukan bidak dalam sebuah permainan catur.
Bidak sering
menjadi pelopor dalam sebuah permainan catur. Siapa pun pemainnya memiliki
kecenderungan untuk menggerakan bidak dalam mengawali permainannya. Itulah mengapa
bidak sering juga dikenal dengan sebutan pion. Bidak membuka jalan agar
buah-buah catur pada barisan sang raja bisa melakukan gerakan. Bidak bukan
hanya membuka jalan untuk memulai permainan tetapi sekaligus memberikan pesan
bahwa setiap saat sang raja bisa diserang. Keterbatasan gerakan menjadikan Sang
pemain tidak punya banyak pilihan langkah. Hanya nasib dan keberuntungan yang
bisa menjamin bidak mencapai akhir gerakan dan mengalami transformasi. Jika cukup
beruntung bidak bisa selalu terluput dari bahaya entah karena kelihaian sang
pemain dalam menggerakkannya atau karena ia diselamatkan oleh bidak lain yang
dikorbankan. Jika tidak ia tidak akan pernah mencapai akhir yang menyenangkan, melainkan kematian
entah dalam keberanian maju menerjang bahaya dengan semangat pengorbanan atau
karena sang pemain tidak punya pilihan karena bidak terkepung oleh kematian.
Gerakan
maju bidak bisa memberikan interpretasi yang berbeda-beda dari berbagai sudut
pandang. Ada yang memandang gerakan maju bidak adalah sebuah pertanda
keberanian. Apa pun keadaan dan bahaya, bidak selalu mencoba melangkah maju. Ia
tidak pernah mundur bukan karena sang pemain punya pilihan untuk
menggerakkannya mundur. Jadi, dari sisi pandang lain keadaan ini bisa berarti gerakan
maju bidak adalah gerakan tanpa kebebasan. Bidak ditakdirkan untuk bergerak
maju. Dengan demikian, tidak perlu ada tanggung jawab di dalamnya. Bidak tidak
bertanggung jawab atas setiap pergerakkannya. Gerakannya telah ditentukan,
hanya menunggu peluang eksekusinya. Di dalamnya ada kepasrahan yang tak
berbatas. Kepasrahan ini dilatarbelakangi oleh ketidaksanggupan mengubah
keadaan. Jadi bidak mengajarkan bahwa jika keadaan tidak bisa diubah maka diri
pribadilah yang perlu disesuaikan.
Gerakan
maju bidak bisa juga diartikan sebagai konsistensi pada hakikatnya. Bidak tidak
dapat mengingkari dirinya meski kematian adalah risikonya. Hakikat bidak adalah
bergerak maju meski kematian ada di hadapannya. Konsistensi bidak ini dipandang
sebagai kesetiaan dalam menjalankan perannya. Di sisi lain konsistensi peran
ini bisa dikutuk sebagai bentuk sikap fanatik dan konservatif. Sebuah kepatuhan
buta tanpa memanfaatkan akal. Dalam gerakan majunya tergambar kreativitas yang
sekarat karena tidak sanggup menemukan solusi-solusi jitu yang beragam untuk
mengatasi masalah. Namun, jika kita menerima argumen bahwa bidak berada dalam
takdir untuk bergerak maju tanpa adanya kebebasan untuk menentukan pilihan maka
pilihan yang ada untuk menilai gerakan bidak adalah konsistensi pada hakikat
dan peran, bukan fanatisme dan sikap konservatif yang buta.
Dari permainan
di papan catur kita bisa berpindah ke panggung dunia tempat percaturan hidup
diperagakan. Manusia tentu berbeda dari bidak catur. Jika bidak catur
ditakdirkan untuk bergerak maju maka manusia dilengkapi dengan kebebasan untuk
memilih setiap gerakan dan tindakan. Jika bidak catur karena takdirnya tidak
sanggup melawan aturan semesta permainan catur sehingga hanya bisa berpasrah
pada keadaan maka manusia dilengkapi dengan daya nalar bukan hanya untuk
menolak berpasrah pada keadaan tetapi berjuang mengubahnya. Jika catur hanya
bisa konsisten dengan perannya dan tidak bisa mengingkari hakikatnya maka
manusia justru mencari kesempatan untuk menjadi “pribadi yang dinamis” bukan
dalam arti berubah-ubah sesuai keadaan tetapi menjadi tidak punya pendirian dan
sering mengingkari peran, janji dan kebenaran hidup demi kenyamanan termasuk
menghindari risiko tindakan-tindakannya.
Dalam percaturan
kehidupan semua mempunyai peran. Tidak semua orang “terlahir” sebagai bidak
atau bertumbuh untuk mengambil bagian kecil dari perannya yang besar. Namun,
semua orang bisa belajar dari bidak. Dalam banyak kesempatan kita menemukan
bahwa kehidupan tidak dapat kita ubah. Meskipun kita mungkin bukan orang-orang
yang menerima gagasan determinisme hidup tetapi kita mematuhi kenyataan bahwa
banyak hal kita terima begitu saja tanpa mempertanyakannya, banyak hal yang
terjadi atas hidup yang bukan pilihan kita. Pada saat seperti itu, cara terbaik
untuk bertahan adalah dengan kepasrahan menerima keadaan. Jika keadaan tidak
bisa diubah maka diri pribadilah yang harus disesuaikan dengan keadaan. Penyesuaian
tentu saja mempunyai batasan. Ada prinsip tertentu yang harus menjadi tolok
ukur kepasrahan dan penyesuaian. Jika keadaan yang tidak dapat diubah adalah kondisi
ketidak adilan sosial maka pilihan kita seharusnya adalah bergerak maju menerjang
dan menabrak. Jika keadaan yang tidak dapat diubah adalah kondisi fisik bawaan
maka kita hanya perlu berpasrah menerimanya.
Melaksanakan
peran dalam kehidupan tidak jarang menuntuk banyak pengorbanan dan dihadapkan
dengan risiko yang tidak ringan. Seorang pemimpin misalnya secara idela harus
konsisten pada apa yang menjadi visi perjuangannya untuk menciptakan
kesejahteraan umum. Namun, kondisi di negeri ini menunjukkan bahwa tidak jarang
pemimpin tidak sanggup bersikap konsisten dalam peran. Pada masa pilkada,
pemilu misalnya, demi elektabilitas, kandidat pemimpin mencitrakan kegigihan
dalam memperjuangkan hak kaum lemah dan kesejahteraan bersama. Namun, ketiadaan
jiwa bidak menjadikan pemimpin bersikap ”dinamis”, mudah terbawa oleh arus utama
pergaulan dan kekuatan politik yang mengedepankan kepentingan diri dan
golongan.
Kegigihan
bidak dalam mempertahankan hakikatnya cerminan bagi manusia untuk
mempertahankan apa yang menjadi jati dirinya bukan apa yang menjadi hak nya. Hakikat
manusia adalah manusia adalah makhluk yang berakal dan berakhlak, manusia adalah
makhluk individu sekaligus sosial. Dengan demikian, bersikap konsisten dan
gigih dalam mempertahankan hakikat berarti mempertahankan kemurnian budi dengan
bertindak rasional dan bertanggung jawab, mempertahankan kemuliaan akhlak
dengan menjunjung etika dan norma-norma hidup, mempertahankan kekhasan pribadi
sebagai individu dalam kehidupan sosial dan mengedepankan sosialitas di tengah
arus individualism dan egoisme. Seperti bidak yang bertransformasi menjadi apa
saja yang “lebih” dari padanya maka manusia yang mempertahankan jati diri,
hakikat kemanusiaannya akan memperoleh mahkota kemuliaan hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar