Search

Senin, 11 Februari 2013

SEBUAH BIDAK CATUR.......


"Bidak tidak pernah bisa melangkah mundur. Apa pun keadaannya ia hanya bisa melangkah maju. Jika berhasil ia mencapai baris akhir papan lawan maka ia boleh menjadi apa saja yang lebih dari padanya...!!"

Dalam permainan semua mempunyai peran. Peran paling sederhana dan mungkin menentukan dalam permainan catur adalah bidak.
Peran sebuah bidak begitu mudah, hanya butuh teknik sederhana, bahkan siapa saja yang belum tahu menggerakkan buah-buah catur secara teknis di atas papannya tahu bagaimana menggerakkan bidak. Bidak hanya perlu digerakkan ke depan dan hanya ke depan jika gerakan menyamping untuk “memangsa” buah catur lawan juga dikatakan ke depan. Namun, apa keistimewaan bidak selain kemudahan dan kesederhanaan penggunaannya?

Bidak catur hanya menjalankan peran dengan gerakan yang terbatas. Andaikan bidak mempunyai kemampuan untuk menggerakan dirinya sendiri tentu saja ia masih tidak punya pilihan untuk melakukan improvisasi gerakan. Apakah ini sebuah kebaikan?
Bidak catur dapat dikatakan terikat oleh suatu prinsip yang menjadi hakikatnya. Prinsip yang menjadi hakikat ini adalah melangkah maju dan hanya maju. Jika bukan demikian maka ia bukan bidak dalam sebuah permainan catur.

Bidak sering menjadi pelopor dalam sebuah permainan catur. Siapa pun pemainnya memiliki kecenderungan untuk menggerakan bidak dalam mengawali permainannya. Itulah mengapa bidak sering juga dikenal dengan sebutan pion. Bidak membuka jalan agar buah-buah catur pada barisan sang raja bisa melakukan gerakan. Bidak bukan hanya membuka jalan untuk memulai permainan tetapi sekaligus memberikan pesan bahwa setiap saat sang raja bisa diserang. Keterbatasan gerakan menjadikan Sang pemain tidak punya banyak pilihan langkah. Hanya nasib dan keberuntungan yang bisa menjamin bidak mencapai akhir gerakan dan mengalami transformasi. Jika cukup beruntung bidak bisa selalu terluput dari bahaya entah karena kelihaian sang pemain dalam menggerakkannya atau karena ia diselamatkan oleh bidak lain yang dikorbankan. Jika tidak ia tidak akan pernah mencapai  akhir yang menyenangkan, melainkan kematian entah dalam keberanian maju menerjang bahaya dengan semangat pengorbanan atau karena sang pemain tidak punya pilihan karena bidak terkepung oleh kematian.

Gerakan maju bidak bisa memberikan interpretasi yang berbeda-beda dari berbagai sudut pandang. Ada yang memandang gerakan maju bidak adalah sebuah pertanda keberanian. Apa pun keadaan dan bahaya, bidak selalu mencoba melangkah maju. Ia tidak pernah mundur bukan karena sang pemain punya pilihan untuk menggerakkannya mundur. Jadi, dari sisi pandang lain keadaan ini bisa berarti gerakan maju bidak adalah gerakan tanpa kebebasan. Bidak ditakdirkan untuk bergerak maju. Dengan demikian, tidak perlu ada tanggung jawab di dalamnya. Bidak tidak bertanggung jawab atas setiap pergerakkannya. Gerakannya telah ditentukan, hanya menunggu peluang eksekusinya. Di dalamnya ada kepasrahan yang tak berbatas. Kepasrahan ini dilatarbelakangi oleh ketidaksanggupan mengubah keadaan. Jadi bidak mengajarkan bahwa jika keadaan tidak bisa diubah maka diri pribadilah yang perlu disesuaikan.

Gerakan maju bidak bisa juga diartikan sebagai konsistensi pada hakikatnya. Bidak tidak dapat mengingkari dirinya meski kematian adalah risikonya. Hakikat bidak adalah bergerak maju meski kematian ada di hadapannya. Konsistensi bidak ini dipandang sebagai kesetiaan dalam menjalankan perannya. Di sisi lain konsistensi peran ini bisa dikutuk sebagai bentuk sikap fanatik dan konservatif. Sebuah kepatuhan buta tanpa memanfaatkan akal. Dalam gerakan majunya tergambar kreativitas yang sekarat karena tidak sanggup menemukan solusi-solusi jitu yang beragam untuk mengatasi masalah. Namun, jika kita menerima argumen bahwa bidak berada dalam takdir untuk bergerak maju tanpa adanya kebebasan untuk menentukan pilihan maka pilihan yang ada untuk menilai gerakan bidak adalah konsistensi pada hakikat dan peran, bukan fanatisme dan sikap konservatif yang buta.

Dari permainan di papan catur kita bisa berpindah ke panggung dunia tempat percaturan hidup diperagakan. Manusia tentu berbeda dari bidak catur. Jika bidak catur ditakdirkan untuk bergerak maju maka manusia dilengkapi dengan kebebasan untuk memilih setiap gerakan dan tindakan. Jika bidak catur karena takdirnya tidak sanggup melawan aturan semesta permainan catur sehingga hanya bisa berpasrah pada keadaan maka manusia dilengkapi dengan daya nalar bukan hanya untuk menolak berpasrah pada keadaan tetapi berjuang mengubahnya. Jika catur hanya bisa konsisten dengan perannya dan tidak bisa mengingkari hakikatnya maka manusia justru mencari kesempatan untuk menjadi “pribadi yang dinamis” bukan dalam arti berubah-ubah sesuai keadaan tetapi menjadi tidak punya pendirian dan sering mengingkari peran, janji dan kebenaran hidup demi kenyamanan termasuk menghindari risiko tindakan-tindakannya.

Dalam percaturan kehidupan semua mempunyai peran. Tidak semua orang “terlahir” sebagai bidak atau bertumbuh untuk mengambil bagian kecil dari perannya yang besar. Namun, semua orang bisa belajar dari bidak. Dalam banyak kesempatan kita menemukan bahwa kehidupan tidak dapat kita ubah. Meskipun kita mungkin bukan orang-orang yang menerima gagasan determinisme hidup tetapi kita mematuhi kenyataan bahwa banyak hal kita terima begitu saja tanpa mempertanyakannya, banyak hal yang terjadi atas hidup yang bukan pilihan kita. Pada saat seperti itu, cara terbaik untuk bertahan adalah dengan kepasrahan menerima keadaan. Jika keadaan tidak bisa diubah maka diri pribadilah yang harus disesuaikan dengan keadaan. Penyesuaian tentu saja mempunyai batasan. Ada prinsip tertentu yang harus menjadi tolok ukur kepasrahan dan penyesuaian. Jika keadaan yang tidak dapat diubah adalah kondisi ketidak adilan sosial maka pilihan kita seharusnya adalah bergerak maju menerjang dan menabrak. Jika keadaan yang tidak dapat diubah adalah kondisi fisik bawaan maka kita hanya perlu berpasrah menerimanya.

Melaksanakan peran dalam kehidupan tidak jarang menuntuk banyak pengorbanan dan dihadapkan dengan risiko yang tidak ringan. Seorang pemimpin misalnya secara idela harus konsisten pada apa yang menjadi visi perjuangannya untuk menciptakan kesejahteraan umum. Namun, kondisi di negeri ini menunjukkan bahwa tidak jarang pemimpin tidak sanggup bersikap konsisten dalam peran. Pada masa pilkada, pemilu misalnya, demi elektabilitas, kandidat pemimpin mencitrakan kegigihan dalam memperjuangkan hak kaum lemah dan kesejahteraan bersama. Namun, ketiadaan jiwa bidak menjadikan pemimpin bersikap ”dinamis”, mudah terbawa oleh arus utama pergaulan dan kekuatan politik yang mengedepankan kepentingan diri dan golongan.

Kegigihan bidak dalam mempertahankan hakikatnya cerminan bagi manusia untuk mempertahankan apa yang menjadi jati dirinya bukan apa yang menjadi hak nya. Hakikat manusia adalah manusia adalah makhluk yang berakal dan berakhlak, manusia adalah makhluk individu sekaligus sosial. Dengan demikian, bersikap konsisten dan gigih dalam mempertahankan hakikat berarti mempertahankan kemurnian budi dengan bertindak rasional dan bertanggung jawab, mempertahankan kemuliaan akhlak dengan menjunjung etika dan norma-norma hidup, mempertahankan kekhasan pribadi sebagai individu dalam kehidupan sosial dan mengedepankan sosialitas di tengah arus individualism dan egoisme. Seperti bidak yang bertransformasi menjadi apa saja yang “lebih” dari padanya maka manusia yang mempertahankan jati diri, hakikat kemanusiaannya akan memperoleh mahkota kemuliaan hidupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar